Warta Talk

Bringing media people with different cultures together

* First published on ABC News BACK STORY (Tumblr).  April 2016

corby-bail-live-crosses-outside-kerobokan-jail-2014

The first one raised the issue of the live cattle trade, relations between the new leaders of Jokowi and Turnball, and a new left-leaning political movement in Jakarta, while the second focussed on terrorism, the extremist movement in Indonesia and comparisons with Australia’s situation.

Next up was a fascinating view of corruption in Indonesia and the current power plays which have made civil society concerned.

These are the conversations that have come up over the past 4 months in a new, informal gathering of media types in Melbourne.

Indonesia is never dull. It is one of Australia’s closest neighbours and a gateway into Asian culture. It sits in a strategic position in the region and is going through all the difficult gear changes that are seen in a new democracy. It has the energy of a young demographic which is chafing against entrenched interests.

The events mentioned bring together people who work in the media, including producers, academics and bloggers, to discuss the issues that they care about, sometimes between the two countries, and sometimes just areas of similar interest. They are designed so those participating can gain an insight into important issues both domestically and in the region. And develop a better cultural understanding between all participants that will inform stories, ideas and perspectives. And aside from the important stuff, there are moments of fun, and realisation that there are many things between cultures that are the same.

This kind of get-together all started in Jakarta, while I was stationed there for four years working as a correspondent. It was an amazing experience, a privilege. It also exposed my lack of knowledge about the country. I hope I am right in saying that … I learnt …!  about nuance, about being mindful of my actions and words in a different culture, and of the immense value in simply taking the time to get to know people and build valuable relationships

During that time I became friends with a reporter and presenter on one of Indonesia’s national television news channels, Metro TV. We met on one of the numerous crazy court reporting days when armoured tanks and rows of police officers had been deployed to be at the ready – this time for the trial of an radical islamic leader considered to be the ideological head of the Bali bombers. I, like others, had asked this influential leader questions through cell bars and pushed through hordes of supporters to get into the courtroom.

Rory is now one of my best friends, and am so glad that he simply came up to me at that courthouse and said hello.  

After many discussions over wine, over coffee, over brunch, we realised that we were learning a lot from each other. For instance, how story imperatives were shaped, reporting ethics, the differences between a public broadcaster and a privately-owned station, and most wonderfully for me, the glorious gossip, anecdotes and background information we shared that provided a richer understanding of “what the heck” was going on, and helped us prioritise the mountain of information to be kept across.

It seemed like a very useful collaboration that could be more widely disseminated.
So with another friend, from the Wall Street Journal, we decided to bring it all together more formally. We also wanted to bridge the divide which saw news teams from foreign outlets and the local crews going to the same media press conferences and events but not mingling with each other, even during some of the very long waits we all endured together. An email was out out, calling for media types from all outlets and backgrounds to join us for a “gathering” … in my apartment, bringing drinks and food to share. It was loud, and interesting, and illuminating.

Eventually we gave it a name – Warta Talk – wartawan is Indonesian for journalist, and of course, we talk. It’s a mix-it-up name that is meant to mirror the tone of the conversations. Mixing cultures, mixing ideas, getting to know your neighbour better.

It is still going, small, but passionate!  

Fast forward to my return to Australia, and to my surprise I discovered that quite a reasonable number of  Indonesians were living in Melbourne, including those who worked in the media industries or have a connection to them. Enough in fact, that I thought it might be good to start a group here (and personally assist with my language practice!).

I contacted the Indonesian Consul General who put me in touch with the Australian Indonesian Journalists Association. So now we have had a few meetings. No surprise – I think they have been great. I hope others feel the same. The aim is to encourage Australian media types to more about another country in the immediate region, and by default, Asia, and provide some different insights. Also that Indonesian attendees will be able to ask questions to their Australian counterparts, and give their own perspectives on the issues that rise between the two nations and also learn. It is meant to be a frank and worthwhile experience.

The Jakarta initiative also sparked the first media dialogue by the Lowy Institute held in March 2015, which brought out three senior Indonesian journalists for a private discussion and a public panel discussion.

Asia, and Indonesia, can be difficult places for a Westerner to get his or her head around. It has been changing markedly like many countries in Asia. As the region grows in wealth and global importance it can’t be ignored. And it does not hurt to lay more groundwork for robust and respectful relationships. I hope, as I think do the other organisers, that this will happen through a forum such as this.

Seorang Seniman bernama Nani

Ketika itu Melbourne yang bersuhu 9 derajat dilanda hujan dingin yang turun terus menerus dari langit sore kelabu. Dan tulang belulang saya yang sudah terbiasa dengan iklim tropis tidak dapat menahan diri dari terpaannya. Sebaliknya sembari membukakan pintu depan sebuah rumah besar, perempuan itu sepertinya tidak menyadari betapa dinginnya sore itu. Rumahnya bergaya townhouse 1970-an dan tersembunyi di area suburbia dalam kota yang terkenal. Ironis memang bahwa perempuan yang besar di Indonesia yang beriklim tropis itu menyambut saya dengan baju terusan kotak-kotak berlengan pendek.

Keterangan Foto: Seorang seniman kelahiran Indonesia bernama Nani Puspasari di studio sekaligus rumahnya di Windsor, Melbourne, Australia.

Keterangan Foto: Seorang seniman kelahiran Indonesia bernama Nani Puspasari di studio sekaligus rumahnya di Windsor, Melbourne, Australia.

Dengan sapaan ramah, Nani Pusparani menyapa dan segera mengarahkan saya menaiki sebuah tangga beton. Terdapat papan kecil bertuliskan tangan yang cantik di dinding, “Selamat Datang di Surga”, dan di atasnya terpampang, “Selamat Datang di Neraka”.  “Itu untuk pesta ulang tahun saya,” kata wanita tersebut seraya tersenyum.  Begitulah, selamat datang di dunia Nani Puspasari.

Nani adalah seorang ilustrator, desainer, fotografer, dan seniman kelahiran Kalimantan, sebuah pulau di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam.  Dengan menggunakan cap “designani”, ia telah menetap di Melbourne selama 8 tahun dan bekerja sebagai seniman grafis. Sementara itu, untuk proyek sampingan, ia banyak bereksperimen dengan menggado-gadokan berbagai jenis media, seperti ilustrasi pensil dan lukisan, sulaman, kolase, mural, dan seni instalasi.

Bakat artistiknya sebenarnya dapat membawanya pergi ke tempat-tempat lain selain Australia.  “Dulu saya ingin ke London namun tempatnya kejauhan, dan saya bilang kepada orang tua bahwa saya tidak akan kembali ke Indonesia setelah saya pergi.”  Tentu saja keluarga Indonesia mana yang menginginkan anaknya pergi terlalu jauh. Sehingga mereka pun mengusulkan Nani untuk tinggal di Singapura atau Melbourne, dan akhirnya pilihan pun jatuh ke Melbourne.

Ternyata Nani dengan gayanya yang eklektik cocok dengan kota ini. Dengan pekerjaan penuh-waktunya sebagai seniman grafis, kami memasuki area kerja yang sebenarnya merupakan bagian dari kamar tidurnya yang besar. Ruangan tersebut dipenuhi dengan berbagai karya seni dan alat-alat lukis. Terdapat pula sebuah meja bundar pendek yang sangat lucu. Meja tersebut dilengkapi dengan kursi-kursi dari peti yang biasa digunakan untuk mengangkut susu. Untungnya peti-petinya masih ditutupi bantalan duduk!

Ia bercerita bahwa saat masih kuliah di Surabaya ia adalah “anak kampung” yang tidak terlalu cocok dengan anak-anak “kelas atas”. Karena ia mendapat didikan untuk selalu rendah hati selama bekerja untuk usaha orang tuanya, ia tidak merasa nyaman dengan budaya sekitarnya yang mengagung-agungkan merek. Mungkin itulah mengapa ia merasa kerasan di Melbourne. Baginya Melbourne adalah kota yang tidak menghakimi orang karena penampilan atau pekerjaan semata.

Di Surabaya (kota besar di bagian timur Pulau Jawa yang merupakan salah satu kota dengan perkembangan terpesat), Nani Puspasari mulai berkawan dengan seorang seniman lalu bergabung dalam sebuah pameran beregu. Ia pun memulai karirnya.  Itulah yang akhirnya membawa Nani terbang ke Melbourne dan menerima dua gelar S2-nya. Dan akhirnya ia menjadi bagian dari komunitas seni di sini.

Ia baru saja menyelesaikan pesanan desain untuk Ubud Writers Festival tahun ini yang merupakan acara tahunan populer di pulau Bali. Ia juga dianugerahi medali perak untuk ilustrasi sampul buku penulis Indonesia bernama Lily Yulianti Farid. Nani juga bekerja di beberapa kafe di Melbourne, dan ia menjalankan proyek-proyek pribadi seperti “The Feminine World.” Dalam proyek ini ia menggunakan tinta dan kain wol kuning tipis untuk membuat catatan harian tentang pengalaman hidup sebagai seorang perempuan.

Ia adalah pribadi yang unik dan menyenangkan, banyak omong namun juga pemalu. Meskipun pemalu, ia tetap terbuka.  Setelah itu Nani mengenakan mantel besarnya dan bercerita mengenai mimpi buruk yang dialaminya selama 7 tahun ketika ia masih lebih muda. Salah satunya adalah mimpi menemukan toples di atas gunungan sampah berisi jantung yang masih berdetak. Kisah segelap ini cukup sulit dicerna mengingat kami sedang berada dalam ruangan ceria yang dipenuhi berbagai karya seni berwarna cerah dan gelap, dan didominasi kasur tinggi berbusa-busa berwarna putih. Setelah itu ia bercerita bahwa tidur merupakan sumber inspirasi baginya. Serta sumber mimpi-mimpi yang mengerikan pula tampaknya.

Motonya adalah “Work Smarter, Be Nice and Have Fun,” atau “Bekerjalah dengan lebih cerdas, bersikaplah yang baik, dan bersenang-senanglah.”

Seiring dengan usianya yang semakin mendekati angka 30, Nani Puspasari menuturkan bahwa orang tuanya, sama seperti orang tua kebanyakan, semakin memaksanya untuk menikah seperti anak-anak muda di daerah asalnya. Saat ia pulang kampung baru-baru ini, orang-orang yang sebenarnya hanya mengenalnya melalui media sosial pun merasa turut perlu mengingatkan Nani tentang pentingnya menikah. Biasanya ia hanya akan menjawab dengan komentar macam, “Ya, saya akan menikah tahun depan, tunggu saja undangannya.”

Beberapa waktu lalu ia memulai sebuah inisiatif bernama Melbourne Art Diary yang merupakan catatan blog pengalamannya mengikuti berbagai acara seni.  Akan tetapi anak rantau di Australia ini tidak berbeda jauh dengan orang kebanyakan. Pasalnya, alasan awal mengapa ia mulai mendalami dunia seni adalah karena kepentingan yang cukup jomplang, “Saya suka datang ke acara-acara pembukaan karena ada bir gratis.”

Ia tertawa. Lalu ia mengakui bahwa seringkali pikirannya mengawang jauh. “Goldfish memory”, ia menyebutnya. Dan tiba-tiba Nani buru-buru pergi keluar karena baru sadar bahwa panggangan untuk teman serumahnya hangus dalam oven. “Terkadang di tempat kerja saya hanya memandangi bos saya. Kadang bos itu harus menyebutkan siapa namanya agar saya bisa ingat siapa dia!”

Nani Puspasari terus membuka jalan dan menetapkan derap hidupnya sendiri sebagai orang Indonesia yang tinggal di Australia.