Seorang Seniman bernama Nani

Ketika itu Melbourne yang bersuhu 9 derajat dilanda hujan dingin yang turun terus menerus dari langit sore kelabu. Dan tulang belulang saya yang sudah terbiasa dengan iklim tropis tidak dapat menahan diri dari terpaannya. Sebaliknya sembari membukakan pintu depan sebuah rumah besar, perempuan itu sepertinya tidak menyadari betapa dinginnya sore itu. Rumahnya bergaya townhouse 1970-an dan tersembunyi di area suburbia dalam kota yang terkenal. Ironis memang bahwa perempuan yang besar di Indonesia yang beriklim tropis itu menyambut saya dengan baju terusan kotak-kotak berlengan pendek.

Keterangan Foto: Seorang seniman kelahiran Indonesia bernama Nani Puspasari di studio sekaligus rumahnya di Windsor, Melbourne, Australia.

Keterangan Foto: Seorang seniman kelahiran Indonesia bernama Nani Puspasari di studio sekaligus rumahnya di Windsor, Melbourne, Australia.

Dengan sapaan ramah, Nani Pusparani menyapa dan segera mengarahkan saya menaiki sebuah tangga beton. Terdapat papan kecil bertuliskan tangan yang cantik di dinding, “Selamat Datang di Surga”, dan di atasnya terpampang, “Selamat Datang di Neraka”.  “Itu untuk pesta ulang tahun saya,” kata wanita tersebut seraya tersenyum.  Begitulah, selamat datang di dunia Nani Puspasari.

Nani adalah seorang ilustrator, desainer, fotografer, dan seniman kelahiran Kalimantan, sebuah pulau di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam.  Dengan menggunakan cap “designani”, ia telah menetap di Melbourne selama 8 tahun dan bekerja sebagai seniman grafis. Sementara itu, untuk proyek sampingan, ia banyak bereksperimen dengan menggado-gadokan berbagai jenis media, seperti ilustrasi pensil dan lukisan, sulaman, kolase, mural, dan seni instalasi.

Bakat artistiknya sebenarnya dapat membawanya pergi ke tempat-tempat lain selain Australia.  “Dulu saya ingin ke London namun tempatnya kejauhan, dan saya bilang kepada orang tua bahwa saya tidak akan kembali ke Indonesia setelah saya pergi.”  Tentu saja keluarga Indonesia mana yang menginginkan anaknya pergi terlalu jauh. Sehingga mereka pun mengusulkan Nani untuk tinggal di Singapura atau Melbourne, dan akhirnya pilihan pun jatuh ke Melbourne.

Ternyata Nani dengan gayanya yang eklektik cocok dengan kota ini. Dengan pekerjaan penuh-waktunya sebagai seniman grafis, kami memasuki area kerja yang sebenarnya merupakan bagian dari kamar tidurnya yang besar. Ruangan tersebut dipenuhi dengan berbagai karya seni dan alat-alat lukis. Terdapat pula sebuah meja bundar pendek yang sangat lucu. Meja tersebut dilengkapi dengan kursi-kursi dari peti yang biasa digunakan untuk mengangkut susu. Untungnya peti-petinya masih ditutupi bantalan duduk!

Ia bercerita bahwa saat masih kuliah di Surabaya ia adalah “anak kampung” yang tidak terlalu cocok dengan anak-anak “kelas atas”. Karena ia mendapat didikan untuk selalu rendah hati selama bekerja untuk usaha orang tuanya, ia tidak merasa nyaman dengan budaya sekitarnya yang mengagung-agungkan merek. Mungkin itulah mengapa ia merasa kerasan di Melbourne. Baginya Melbourne adalah kota yang tidak menghakimi orang karena penampilan atau pekerjaan semata.

Di Surabaya (kota besar di bagian timur Pulau Jawa yang merupakan salah satu kota dengan perkembangan terpesat), Nani Puspasari mulai berkawan dengan seorang seniman lalu bergabung dalam sebuah pameran beregu. Ia pun memulai karirnya.  Itulah yang akhirnya membawa Nani terbang ke Melbourne dan menerima dua gelar S2-nya. Dan akhirnya ia menjadi bagian dari komunitas seni di sini.

Ia baru saja menyelesaikan pesanan desain untuk Ubud Writers Festival tahun ini yang merupakan acara tahunan populer di pulau Bali. Ia juga dianugerahi medali perak untuk ilustrasi sampul buku penulis Indonesia bernama Lily Yulianti Farid. Nani juga bekerja di beberapa kafe di Melbourne, dan ia menjalankan proyek-proyek pribadi seperti “The Feminine World.” Dalam proyek ini ia menggunakan tinta dan kain wol kuning tipis untuk membuat catatan harian tentang pengalaman hidup sebagai seorang perempuan.

Ia adalah pribadi yang unik dan menyenangkan, banyak omong namun juga pemalu. Meskipun pemalu, ia tetap terbuka.  Setelah itu Nani mengenakan mantel besarnya dan bercerita mengenai mimpi buruk yang dialaminya selama 7 tahun ketika ia masih lebih muda. Salah satunya adalah mimpi menemukan toples di atas gunungan sampah berisi jantung yang masih berdetak. Kisah segelap ini cukup sulit dicerna mengingat kami sedang berada dalam ruangan ceria yang dipenuhi berbagai karya seni berwarna cerah dan gelap, dan didominasi kasur tinggi berbusa-busa berwarna putih. Setelah itu ia bercerita bahwa tidur merupakan sumber inspirasi baginya. Serta sumber mimpi-mimpi yang mengerikan pula tampaknya.

Motonya adalah “Work Smarter, Be Nice and Have Fun,” atau “Bekerjalah dengan lebih cerdas, bersikaplah yang baik, dan bersenang-senanglah.”

Seiring dengan usianya yang semakin mendekati angka 30, Nani Puspasari menuturkan bahwa orang tuanya, sama seperti orang tua kebanyakan, semakin memaksanya untuk menikah seperti anak-anak muda di daerah asalnya. Saat ia pulang kampung baru-baru ini, orang-orang yang sebenarnya hanya mengenalnya melalui media sosial pun merasa turut perlu mengingatkan Nani tentang pentingnya menikah. Biasanya ia hanya akan menjawab dengan komentar macam, “Ya, saya akan menikah tahun depan, tunggu saja undangannya.”

Beberapa waktu lalu ia memulai sebuah inisiatif bernama Melbourne Art Diary yang merupakan catatan blog pengalamannya mengikuti berbagai acara seni.  Akan tetapi anak rantau di Australia ini tidak berbeda jauh dengan orang kebanyakan. Pasalnya, alasan awal mengapa ia mulai mendalami dunia seni adalah karena kepentingan yang cukup jomplang, “Saya suka datang ke acara-acara pembukaan karena ada bir gratis.”

Ia tertawa. Lalu ia mengakui bahwa seringkali pikirannya mengawang jauh. “Goldfish memory”, ia menyebutnya. Dan tiba-tiba Nani buru-buru pergi keluar karena baru sadar bahwa panggangan untuk teman serumahnya hangus dalam oven. “Terkadang di tempat kerja saya hanya memandangi bos saya. Kadang bos itu harus menyebutkan siapa namanya agar saya bisa ingat siapa dia!”

Nani Puspasari terus membuka jalan dan menetapkan derap hidupnya sendiri sebagai orang Indonesia yang tinggal di Australia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: